Mengenal Hebatnya Sistem Ekonomi Islam & Pengaruhnya Terhadap Kualitas Pendidikan

Ayah dan Bunda, dalam pandangan Islam, kunci dari keberhasilan proses pendidikan ada pada guru. Guru memiliki banyak keutamaan seperti menurut sebuah hadis dikatakan,

“Sesungguhnya Allah, para malaikat dan semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, sampai semut yang ada di liangnya dan juga ikan besar, semuanya bershalawat kepada muallim (orang yang berilmu dan mengajarkannya) yang mengajarkan kebaikan kepada manusia” (H.R. Tirmidzi)

Guru adalah sosok yang dikaruniai ilmu oleh Allah Swt yang dengan ilmunya itu ia menjadi perantara manusia lain untuk mendapatkan, memperoleh, serta menuju kebaikan di dunia maupun di akhirat. Selain itu guru tidak hanya bertugas mendidik muridnya agar cerdas secara akademik, tetapi juga guru mendidik muridnya agar cerdas secara spritual yaitu memiliki kepribadian Islam.

Salah satu cara untuk memuliakan guru adalah dengan cara memperhatikan kesejahteraan guru.

Diriwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah, dari Sadaqoh ad-Dimasyqi, dar al- Wadl-iah bin Atha, bahwasanya ada tiga orang guru di Madinah yang mengajar anak-anak dan Khalifah Umar bin Khattab memberi gaji sebesar 15 dinar.

Jika 1 dinar sama dengan 4,25 gram emas dan harga emas pada hari ini kisaran 900 ribu rupiah per gram-nya maka saat itu gaji guru di era Khalifah Umar setara dengan 57.375.000 juta rupiah.

Pada masa Shalahuddin al Ayyubi gaji guru lebih besar lagi. Di dua madrasah yang didirikannya yaitu Madrasah Sufiah dan Madrasah Shalahiyyah gaji guru berkisar antara 11 dinar sampai dengan 40 dinar, artinya gaji guru bila di kurs dengan nilai saat ini adalah Rp 42.075.000,- sampai Rp 153.000.000,-.

Tingginya penghargaan yang diberikan Islam pada SDM di bidang pendidikan, menjadikan ilmu pengetahuan berkembang sangat pesat di masa keemasan Islam. Demikian juga terkait dengan investasi, negara Islam saat itu sangat memprioritaskan bidang pendidikan.

Karya tulis yang ada saat itu akan ditimbang beratnya kemudian diganti dengan emas. Itu dapat menandakan bahwa alokasi belanja negara sangat tinggi di bidang pendidikannya. Karena prioritasnya yang tinggi, maka fasilitas-fasilitas seperti sekolah, kampus, perpustakaan dan laboratorium menjadi tempat yang sangat membanggakan di era keemasan Islam.

Hal yang sangat penting adalah bahwasanya perhatian totalitas dari negara adalah untuk mewujudkan pendidikan yang shahih yang akan mampu mencetak generasi dengan taraf berpikir tinggi, kritis, peduli serta berkemampuan inovatif dan kreatif.

Memang sangat dibutuhkan dana besar untuk biaya pendidikan yang berkualitas, gratis serta gaji guru yang maksimal. Namun, pertanyaannya, siapa yang berkewajiban menanggung biaya yang besar tersebut? Masyarakat atau negara?

Dalam sistem Islam, meski masyarakat juga didorong untuk mengorbankan hartanya untuk menyokong pendidikan, misalnya lewat skema wakaf, negara berada di tempat pertama sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pembiayaan tersebut.

Karena itu, kesanggupan negara dalam membiayai pendidikan tidak lepas dari sistem ekonomi yang diterapkan sebagai mekanisme yang menjamin negara memiliki sumber keuangan yang memadai untuk membiayai berbagai kemaslahatan umat, termasuk pendidikan.

Hanya sistem ekonomi Islam-lah yang mampu menjamin hal tersebut. Sistem tersebut memberikan keadilan yang nyata sehingga umat dapat menikmati kekayaan yang Allah berikan guna sebesar-besar kesejahteraan umat.

Sumber : Khoiru Ummah Media

 

slot gacor

slot gacor hari ini

bolavitaslot

slot gacor

bolavita

s1288poker

s1288poker

s1288poker

s1288poker

s1288poker

s1288poker

mbo128

slot qris

mbo128

slot qris

mbo128

slot qris

mbo128

rtp live

mbo128

sv388

mbo128

piala dunia 2026

agens128

sv388

mbo128

mbo128 login

live casino

mbo128

slot qris

situs slot qris

bolavita

bolavita

sbobet

sv388

daftar sbobet