Sekolah Tahfizh Plus Khoiru Ummah Medan

Memupuk Iman di Kalimantung

Oleh : Ananda Nurul Afirah, dan Ustadzah Dewi Waty, S.Si *)

Sebuah perjalanan menjelajahi laut yang tak biasa. Perjalanan yang sarat dengan pelajaran hidup sebagai seorang hamba. Perjalanan yang dilatarbelakangi perintah Allah dalam Al Qur’an surah Al Mulk ayat 15 yang artinya, “Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya..”

Perjalanan menuju Pulau Kalimantung ditempuh selama 2 jam dari Pantai Pandan dengan menggunakan kapal kecil berpenumpang 20 orang, melintasi lautan yang berhadapan langsung dengan samudera Hindia. Awalnya perjalanan masih dinikmati dengan suka cita, riak gelombang kecil memacu adrenalin menguji keberanian. Namun, siapa yang menduga di tengah perjalanan mengarungi lautan tersebut, badai menghampiri. Angin menghempas air laut membentuk gelombang yang dahsyat. Kapal yang ditumpangi terombang-ambing di hempas gelombang.

Terjangan gelombang datang dari depan dan dari sisi kapal, hingga kapal miring, nyaris tenggelam.  Lisan tak mampu mengucapkan kalimat selain kalimat-kalimat zikir, sembari memohon ampunan atas kesombongan diri yang telah banyak lalai. Akal tak mampu berfikir selain memikirkan bahwa peristiwa itu adalah wujud kekuasaan Allah atas semua makhluk. Jiwa ini merasa lemah.  Raga ini tertunduk kaku. Meratapi diri yang tak siap berpisah dengan orangorang terkasih.

Seketika jiwa dan raga tertunduk pada kuasa MU, tak mampu menolak dan tak mampu menghentikannya. Sungguh Engkau Maha Kuasa. Sedikit saja Engkau gerakkan gelombang laut menghempas kapal, sudah membuat manusia ini tak mampu berbuat apa-apa. Allahu Akbar.

Perjalanan  berakhir saat tiba di Pulau Kalimantung. Sebuah pulau tak berpenghuni yang secara administrasi berada di kecamatan Tapian Nauli kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Sungguh Allah Maha Adil. Setelah Allah menunjukkan kekuasaan dan kebesaran-Nya di tengah lautan, Allah tunjukkan kekuasaan dan kebesaran-Nya terhadap matahari dan pergerakannya. Allah suguhkan pemandangan nan eksotis, matahari tenggelam di ufuk barat.

Gelapnya malam pun menghampiri. Seolah Allah hendak menghibur hamba-hamba-Nya yang baru saja melewati dahsyatnya gelombang laut ciptaan-Nya, dengan menyuguhkan indahnya pemandangan langit malam. Begitu banyak bintang berwarna-warni memanjakan mata, menggugah akal dan menundukkan jiwa bahwa sungguh hanya Engkau yang mampu menciptakan itu semua dengan begitu indah dan teratur. Pemandangan yang sebelumnya hanya bisa dilihat dari buku atau layar kaca, kini Engkau jadikan mata ini menjadi saksi kebesaran-MU secara langsung.

Habis gelap, terbitlah terang. Matahari menyapa dengan indahnya. Pergerakan matahari yang selama ini tak bisa disaksikan, kini disaksikan secara langsung tanpa alat bantu.

Saat matahari telah sempurna menerangi bumi, pantulan cahayanya memberikan pemandangan yang begitu apik. Gradasi warna air laut yang memanjakan mata. Beningnya air laut telah menyingkap rahasia di dasarnya. Pasir putih, terumbu karang, ikan-ikan cantik berwarna-warni yang berlindung di dalamnya. Subhanallah, sungguh indah ciptan-MU, pemandangan laut yang begitu menakjubkan dari atas hingga ke dasarnya.

Sungguh perjalanan menjelajahi laut yang sangat bermakna. Menyaksikan fenomena alam dan mengalaminya secara langsung. Menyaksikan dan merasakan kebesaran serta kekuasaan Allah terhadap semua makhluk. Perjalanan yang menambah kekaguman manusia pada Tuhannya, yaitu Allah azza wa jalla.

Terima kasih atas semua suguhan alam yang telah Engkau berikan untuk semua makhlukMU. Engkau ciptakan bumi ini lengkap dengan semua yang dibutuhkan manusia, juga Engkau ciptakan matahari dan bintang lainnya untuk kelangsungan hidup manusia. Engkau pergilirkan waktu, juga untuk manusia. Engkau begitu baik. Sungguh durhaka manusia-manusia yang tak mau tunduk pada-MU. Na’udzubillah min dzalik.

Syukur tak terkira atas kesempatan yang telah diberikan untuk menjelajahi laut yang Engkau ciptakan, menyaksikan kebesaran-MU dan merasakan kasih sayang-MU, di Bulan Februari 2023 ini. Mungkin pelajarannya akan berbeda jika waktunya berbeda.

 

*) Penulis (Nurul Afiroh : Siswa Kelas 5);  (Ustadzah Dewi Waty, S.Si : Guru Sains Kelas 4-6)