Cinta kepada Allah dan Rasulullah
Oleh : Arum Indah (Guru sekolah Tahfizh Plus Khoiru Ummah Medan)
Cinta adalah ketaatan. Dan ketaatan adalah wujud rasa cinta. Nikmat yang diberikan oleh Allah SWT dalam kehidupan kita, harus senantiasa kita syukuri. Nikmat sehat, nikmat iman dan nikmat islam. Begitu banyak nikmat yang telah diberikan ini, seharusnya menjadikan seorang hamba semakin bersyukur dan cintanya akan semakin besar kepada Sang pencipta. Cinta itu akan mendorongnya untuk melakukan apa yang diperintahkan Allah dengan cara menjadikan utusan Allah sebagai suri tauladan dalam kehidupannya.
Mencintai Allah dan Rasulullah saw berarti taat kepada apa yang diturunkan Allah dan taat pada apa yang diajarkan dan dicontohkan oleh rasulullah saw. Sebagai muslim, mencintai Allah dan Rasulullah saw merupakan hal yang tidak bisa diucapkan dengan lisan saja. Adalah dusta jika seseorang mengatakan cinta kepada Allah dan rasul, tapi ia tidak mentaatinya, tidak menerapkan hukum – hukum Allah dalam kehidupannnya dan tidak menjadikan Rasulullah sebagai suri tauladan dalam kehidupan sehari –hari. Padahal dalam diri Rasul terdapat suri tauladan baik dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara. Allah SWT berfirman dalam surah Al ahzab ayat 21 : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
Dalam kehidupan berkeluarga rasul telah menjadikan dirinya sebagai seorang kepala keluarga yang menjaga keluarganya dengan iman dan takwa kepada Allah. Dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara rasulullah menetapkan syariah islam dalam segala lini kehidupan.
Saat ini, menanamkan rasa cinta kepada Allah dan Rasul memiliki tantangan yang cukup besar. Gaya hidup yang serba permissif, hedonis, sekuler dan liberal sedikit demi sedikit telah meenyeret kaum muslim kehilangan identitas mereka sebagai seorang muslim. Terkadang kita temukan seseorang yang lisannya mengaku islam, tapi justru perbuatannya tak menunjukkan kecintaan sedikit pun terhadap syariah islam. Lisannya mengaku islam, tapi jiwanya islamophobia, memusuhi segala hal yang berhubungan dengan islam, melakukan persekusi terhadap para pemuka agama islam dan aktivis dakwah islam, mengkriminalisasikan ide – ide islam, seperti ide jihad dan khilafah. Atau bahkan hanya diam ketika yang mulia banginda rasulullah saw di hinakan oleh negara kafir. Jika seperti ini, apakah ini yang dinamakan cinta?
Cinta pada Allah dan RasulNya sejatinya akan menjadikan yang memiliki cinta itu taat pada Allah dan Rasul. Mereka akan marah jika ada yang melakukan pelecehan terhadap syariah islam. Karena implikasi dari cinta Allah dan Rasul adalah mencintai syariah islam. Adalah dusta jika ia mengatakan cinta pada Allah dan RasulNya tapi pada saat yang sama ia juga memusuhi syariah islam. Allah berfrman dalam surah ali imran ayat 31, “jika kalian benar – benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencibtai kalian dan megampuni dosa – dosa kalian. Allah maha pengampun lagi maha peyayang.”
Adalah dusta jika seseorang yang mengaku cinta pada Allah dan RasulNya tapi diam terhadap penerapan hukum kufur atau bahkan turut andil dalam terlaksananya hukum kufur tersebut. Pasalnya, Rasulullah SAW ketika hidup di kondisi yang tidak islam yakni pada masa arab jahiliyah, rasul tidak mendiamkan hal tersebut, rasul turut berjuang agar hukum syariah bisa diterapkan. Dalam kondisi hari ini, saat syariah islam tidak diterapkan maka bagi orang yang cinta pada Allah dan Rasulnya, ia akan berupaya dan berjuang agar syariah islam itu bisa diterapkan dalam kehidupannya. Ia akan berusaha agar seluruh lini kehidupannya terikat dengan syariah islam, baik dalam kehidupan pribadinya, bermasyarakat maupun bernegara. Karena syariah islam tidak hanya mengatur kehidupan pribadi seseorang,tapi juga mngatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Allah berfirman dan surah an nisa ayat 65 yang artinya, “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” Yang di maksud menjadikan rasulullah sebagai hakim adalah menjadikan hukum Allah sebagai pemecah atas problematika kehidupan manusia.
Bukti otentik kecintaan pada Allah dan RasulNnya dibuktikan dengan menerapkan syariah yang telah diturunkan oleh Allah dan dibawa oleh Rasuullah. Karena sikap ini menunjukkan kebenaran dan kesempurnaan iman. Imam Asy syafi’i menyatakan dalam penggalan bait syairny : Andai cintamu benar, niscaya kau taat padanya. Sungguh pecinta itu taat kepada apa yang dia cinta.
Jadi cinta adalah taat. Cinta pada Allah dan Rasulullah adalah taat pada syariah dan menjadikan rasul sebagai teladan dalam pelaksanaan syariah. Perwujudan cinta ini dibuktikan dengan memperjuangkan penerapan hukum islam dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat dan bernegara. jika penduduk suatu negeri beriman, taat dan menerapkan hukum syariah, Allah pasti akan menjaga negeri tersebut dengan penuh ketenangan, kelapangan hidup, keberkahan akan dibuka oleh Allah dari langit dan dari bumi, niscaya Allah pasti akan memberikan yang terbaik dan penduduk negeri tersebut mennjadi ummat yang terbaik.
Akan tetapi jika penduduk suatu negeri ustru tidak beriman kepada Allah, hukum syariah diabaikan, terjadi kezholiman terhadap pemuka – pemuka agama dan aktivis dakwah islam, Allah akan mencabut segala keberkahan dari negeri tersebut, maka terjadilah kesempitan hidup, kejahatan yang merajalela dan ketidakadilan terjadi dimana – mana.
Oleh karena itu, sebagai seorang muslim dan wujud cinta kiita kepada Allah seiyanya kita mulai berjuang menerapkan syariah. Dalam kehidupan keluarga, bermasyarakat dan bernegara. Wallahu’alam
Telah dimuat di koran Waspada tanggal 08 November 2020
