Keberkahan Seorang Guru

Kita patut bersyukur menjadi hamba-hamba pilihan untuk mendidik generasi umat ini. Banyak kebaikan yg akan diraih dari aktivitas ini. Diantaranya adalah keberkahan ilmu yg akan mengalir kepada keturunan kita di masa yang akan datang.
Mari kita sejenak bertamasya dengan guru umat ini yang ditorehkan oleh Imam az Zarnuji w. 593 H di dalam kitabnya yg fenomenal, Ta’lim al-Muta’allim, beliau menuturkan:
ينبغي أن يكون صاحب العلم مشفقا …. الخ
Orang Alim harus memiliki empati & suka menasehati, bukan menjadi pendengki. Karena sifat dengki itu membahayakan & tidak memberi manfaat.
Guru kami, Syeikh al-Islam Burhanuddin rahimahullaah berkata, Para Ulama berkata bahwa anak seorang guru biasanya akan menjadi ‘Alim juga karena guru itu menginginkan muridnya menjadi ‘Alim terhadap al-Qur’an. Berkat keberkahan i’tikad & empatinya (terhadap muridnya. Pent), anaknya pun menjadi seorang ‘Alim.
Abu al-Hasan menceritakan bahwa (Imam Abdul Aziz bin Umar. Pent) mulai mengajari kedua putranya, Husamuddin & As-Sai’d Tajuddin pada siang hari, setelah dia mengajar orang lain. Kedua putranya berkata, “kondisi kami di waktu itu lelah & jenuh.”
Ayah keduanya berkata, “Orang-orang perantauan & anak-anak para pembesar datang dari berbagai penjuru menemuiku. Maka aku harus terlebih dahulu mengajari mereka.” Lalu, berkat kelemah lembutan (empati) Imam Abdul Aziz bin Umar kepada para muridnya kedua putranya bisa mengungguli para ahli fiqih di berbagai penjuru dunia di masa itu.
(Ilham Fauzi, Kepala Sekolah STP SD Khoiru Ummah Medan)